The Story of Griya Dalem Saraswati

HICTORICAL BUILDING SINCE 1940

Di area Griya Dalem Saraswati terdapat 4 Griya, yaitu Griya Gede, Griya Telaga Anom, Griya Dalem Saraswati dan Griya Anyar, yang sekarang menjadi kesatuan menjadi Griya Dalem Saraswati.

Awal mula berdirinya Griya Dalem Saraswati (GDS) yaitu mulai dirintis pada tahun 1940-an oleh Ida Bagus Putu Widya dengan istrinya Ida Ayu Made Rai ketika beliau pindah dari Griya pusat (Griya Gede) kesebelah selatan yaitu Griya Telaga Anom sareng kangin.

Ida Bagus Putu Widya adalah seorang politisi, budayawan dan keruhanian, dan beliau sempat menjabat sebagai DPR di Bali pada tahun 1966. Beliau memiliki 5 istri dimana Ida Ayu Made Rai ini adalah istri pertama beliau yang bertempat tinggal di Klungkung atau di Griya Dalem Saraswati, dan istri lainnya berlokasi di Denpasar. Dari istri pertamanya beliau memiliki dua anak yaitu Ida Bagus Ngurah Somya dan ida Ayu Made Sumiati.

Bale Daja

Awalnya pembangunan Griya Telaga Anom hanya terdiri dari rumah sederhana, tempat ibadah dan toko tempat berjualan istri beliau. Beliau tidak secara signifikan membangun Griya tersebut karena beliau kesibukan beliau dan karena beliau memiliki banyak griya lainnya.

Ketika anak beliau yaitu Ida Bagus Ngurah Somya telah dewasa, kemudian Ida Bagus Ngurah Somya menikah dengan Ida Ayu Suriyati. Seterusnya Ida Bagus Ngurah Somya menjadi hakim dan mulailah Griya Telaga Anom dibangun besar-besaran dari tahun 1974 – 1979.

Selanjutnya pengembangan Griya Telaga Anom yang dibangun oleh Ida Bagus Ngurah Somya tersebut mulai melebar ke area baru yaitu Griya Dalem Saraswati secara bertahap sampai tahun 1990-an dan terakhir dibangunlah Griya Anyar pada tahun 2000 dengan menukar guling dengan tanah, dengan penduduk sekitar.

Beliau, Ida Bagus Ngurah Somya mendirikan bangunan-bangunan Bali dengan berlandaskan kosala-kosali tata ruang bangunan Bali yang sangat indah dan termasuk kedalam salah satu fenomenal bangunan di Bali yang terangkum dalam buku The Art of Bali. Beliau sangat kenal betul dengan puri-puri di Ubud, puri kerajaan dan griya-griya lainnya yang ada di Bali, karena itulah beliau membangun Griya Dalem Saraswati dengan mengembil beberapa contoh yang pernah beliau temui dengan arsitektur Gedong Rata seperti Gedong Rata Bale Gajah dengan saka 24, saka putus Bale Gede bahkan puri agung yang sangat megah dengan penempatan bangunan yang sangat arsitektur.

Selanjutnya pada tahun 2005 beliau mendirikan sebuah museum keluarga yang bertepatan 5 tahun meninggalnya ayahanda beliau yaitu Ida Bagus Putu Widya yang berisikan berbagai barang peninggalan ayahandanya dari mulai ayahandanya sebagai politikus, budayawan, artis dan tokoh masyarakat yang disegani dan itu masih bisa dinikmati sampai saat ini di Museum Keluarga tersebut.

Beliau juga mendirikan Bharata Galleri yang merupakan pengembangan dari galeri kepunyaan beliau yang ada di Ubud yang berisikan berbagai macam koleksi beliau, baik yang beliau koleksi sendiri maupun yang beliau buat dengan berkolaborasi dengan artis-artis. Didalamnya terdapat berbagai macam lukisan, patung-patung, samurai, keris, guci dan lain-lain.

Museum Bung Karno

Dan karena kecintaan beliau terhadap pendiri bangsa yaitu Bung Karno dan Hatta terutama Bung Karno hampir setiap tahun beliau nyekar ke Blitar sampai-sampai beliau memiliki koleksi buku Bung Karno lengkap, yang akhirnya beliau dengan resmi mendirikan Museum Soekarno-Hata di area Griya Dalem Saraswati yang cukup besar yang berisikan tentang Bung Karno dan Ideologinya.

Ida Bagus Ngurah Somya pernah menjabat sebagai kepala Pengadilan Pontianak, Ambon, Wakil di Kupang, pernah di Mahkamah Agung sebagai staff ahli, pernah juga ketua Pengadilan Negeri di Tabanan, ketua Pengadilan Negeri Denpasar dan hakim karir di Karangasem dan juga di Yogyakarta dan Jakarta Selatan, disela-sela kesibukan beliau itulah selama bertahun-tahun beliau secara instens mengkoleksi berbagai benda bersejarah yang beliau dapati di daerah tersebut, seperti guci dari Ambon, pusaka, samurai dan berbagai jenis patung dari Makasar.

Lebih dari itu beliau bekerja sama dengan artis-artis sekitar dan mengumpulkan para seniman di Bali untuk membuat lukisan dan patung-patung yang sangat arsitektur. Karena banyaknya koleksi beliau hingga akhirnya beliau mendirikan bangunan galeri yang lebih besar lagi di Griya Dalem Saraswati, dan sebagai pelengkapnya beliau membeli 1 set alat musik gong lengkap, barong dan mendirikan sebuah bangunan panggung yang sangat besar untuk pertunjukan seni, dengan harapan di Griya Dalem Saraswati ini adanya sebuah aktifitas kesenian, bahkan beliau juga sempat membayar guru tari untuk mengajar anak-anak sekitar untuk belajar tari disana.

Gedong Anyar

Terakhir beliau mendirikan sebuah Gedong Anyar yang diperuntukan untuk para artis dan tamu-tamu yang ingin merasakan atmosfir tinggalnya disebuah Griya yang megah.

Pada tahun 2016 Ida Bagus Ngurah Somya wafat meninggalkan Griya Dalem Saraswati dan selanjutnya Griya Dalem Saraswati dikelola oleh anaknya yang sekaligus generasi ke-3 yang bernama Ida Bagus Gede Arthana. Sebagai penghormatan kepada ayahanda beliau yang telah membangun Griya Dalem Saraswati selama berpuluh-puluh tahun, Ida Bagus Gede Arthana mengelolanya sesuai dengan visi dan misi ayahanda beliau yaitu bagaimana semua koleksi dan bangunan megah yang telah beliau bangun bisa dinikmati oleh masyarakat umum. Dan pada bulan Agustus tahun 2016 mulailah Griya Dalem Saraswati dibuka untuk umum.

Get More Experiences

In Griya Dalem Saraswati (GDS) you not only get stay but you get more amazing experience. You can stay, make an event, more close with traditional people and traditional activities. You can't get complete experience only in here. We invited you to come Griya Dalem Saraswati.

Book Now